lihatlah aku, bukankan kami memiliki hak untuk dilindungi.....
untuk kalian rangkul....
dimana hatimu, mengapa kau begitu acuh. kami mengangkatmu karena kami percaya kalian akan memperbaiki keadaan kami. dimana hak-hak kami....?
itulah barangkali kata-kata yang tak sempat mereka katakan untuk para pejabat. Kelaparan yang mengakibatkan gizi buruk dan kurang gizi seperti yang diderita anak-anak di NTB, NTT, Papua, Lampung dan berbagai wilayah lainnya bukanlah kejadian yang tiba-tiba muncul di Indonesia. Berbagai survei, penelitian dan berita media massa selalu mengulang laporan yang mengungkap kondisi bayi dan anak balita yang menderita kelaparan di berbagai wilayah Indonesia. Tengoklah data BPS tahun 1999, yang menyebutkan bahwa dari total 19.941.528 anak balita, yang menderita gizi buruk dan kurang gizi ada sebesar 5.256.587 anak Balita (BPS, Susenas 1989-2000). Pada tahun 1999, dikabarkan tentang ribuan bayi dan anak balita menderita gizi buruk di Sumatera Barat. Entah berapa yang menderita busung lapar atau marasmus kwarshiorkor. Kematian akibat busung lapar juga bukan kejadian yang baru.
beginilah indonesia, disisi lain mereka yang tengah asik tertawa terbahak-bahak, berpesta pora, berjalan-jalan menghamburkan setiap kepingnya dari hak-hak mereka yang tengah menjerit kelaparan, mencari sesuap demi suap nasi dari sisa-sisa makanan basi. ya.. memang sangat ironi sekali, namun apa yang hendak mereka perbuat. mereka tak berdaya melawan rezim pemerintahan yang memihak pada kolonialisme kelompok.
indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang BERANI. ini yang penting.... BERANI... berani adil, berani bertanggung jawab, berani memegang amanah. berani menentang kejahatan. bukan sosok badannya saja yang "gede" tapi nyalinya, nyali "capung". itu lah kata-kata KH. Zaenudin M Z sebelum beliau wafat. korupsi yang menjangkit indonesia sangat kronis. adanya KPK, belum dapat membasmi tindakan merugikan tersebut. telah diketahui. bahwa kasus-kasus korupsi yang di tangani oleh KPK itu sendiri tak ada banyak yang tuntas atau bahkan tak ada yang tuntas. kasus wisma atlit yang hingga saat ini belum ada kejelasannya, kasus senturi, adalah bukti lemahnya hukum di indonesia.
perancangan skenario dibuat dengan sedemikian rupa, sehingga seakan-akan kasus terus terarah, berjalan, hingga akhirnya terdakwa mendapatkan hukuman yang ringan. bahkan lebih ringan dari pada hukuman yang diperoleh oleh pencuri ayam.
